Jumat, 21 Oktober 2016

ngi ngooo

cukup kali yee sendu sendunya..

oke, jadi kalo kalian baca postingan gua kemarin kemarin, isinya itu tentang sajak sajak kegalauan seorang manusia yang gajelas, gua ceritain dah sekarang.

jadi ceritanya gua kemarin kemarin itu deket sama seonggok wanita, yang gua kenal dari temen gua di kampus.
yang entah kenapa, awal gua chat ke dia, doi bales seadanya,yang kemudian karena doi bales seadanya,dan seperti gua menganggap diri gua seperti zampah pada saat itu, gua stop chat an sama dia.

sampe suatu waktu, doi ngirim broadcast getrich gitu, yg dari situ, gua mulai chat secara intens lagi sama dia sehingga pada suatu waktu, doi curhat lah ke gua, tentang pacarnya yang menurut gua brengseknya kebangetan.
gua juga brengsek sih, tapi yaa ga se brengsek itu juga..

dari situ, gua jadi lebih care ke dia, dia pun lebih welcome ke gua, yang kemudian timbullah rasa di diri ini, untuk segera bertemu dengannya, sehingga pada suatu waktu gua ketemu sama dia.

waktu ketemu, gua seneng parah, respon dia bagus men ke gua, ngobrol asik, gua seneng liat dia ketawa, karena kalo di chat, apalagi pas dia curhatin cowonya, dia suka nangis gitu.
sehingga dari situ timbullah sifat kelelakian gua Untung melindungi dan mengayomi dia, dan gua sayang juga sama dia

Sabtu, 15 Oktober 2016

Sore ini turun hujan, aku menantinya di sebuah warung pinggir jalan, bersama segelas kopi dan dua Batang rokok yang terus mengepul.

kendaraan lalu lalang di depanku, hawa dingin seakan tak terasa, tertutupi oleh rasa penasaran dalam hati, yang selalu bertanya tanya tentang perasaannya padaku

yang lucunya, aku selalu tersenyum saat membaca pesan darinya, atau melihat fotonya, sampai sampai teman temanku mengatakan kalau aku seperti orang gila, yang tersenyum senyum sendiri.

tapi, dibalik semua ini, aku menyimpan rasa khawatir akan hubungan ini, karena saat ini dia masih mempunyai status.

semoga keadaan berubah secepatnya.

Sabtu, 01 Oktober 2016

Sajak Rindu

aku di buru rindu, di ujung malam menuju Minggu.
yang rasanya ingin aku terlelap tanpa memikirkan sejenak
karena aku tahu, aku tak pantas memikirkanmu yang terlalu sering memikirkannya.

dingin, dingin tubuh ini tanpamu
ketika teringat kau bersandar di pundak ini Minggu lalu.
tanpa suara, yang tergambar hanya nyaman.
tanpa cahaya, yang terasa hanya senyummu.

rekan sekamar bilang, kalau aku ini gila
tersenyum sendiri, terkadang melamun
kadang tertawa, tetapi terlihat menangis

ini cinta kawan, biar aku merasakan ke tidak warasannya

karena cinta tak kenal aturan
karena rindu tak mengenal waktu
karena aku diburu rindu.

Sajak Rindu
Satu Minggu setelah dia pergi, Cirendeu

Bisik Malam

masih malam, seperti sebelum sebelumnya, aku tuangkan cairan hati ini dimalam hari, saat ingin terlelap dan bermimpi tentangmu, tentang rasa.

perasaan ini semakin memburu, memburu inderamu agar mengetahuinya, walau kita sama sama tahu, bukan sekarang waktu untuk bersama, tanpa sandungan.

tak apa kasih, gelap pun butuh waktu agar terlihat.
walau serangga malam selalu menantinya.

aku ini kunang kunang, yang butuh malam untuk terlihat, yang butuh kamu untuk seimbang, yang butuh kita agar bahagia.

bahagia? tak apalah, hanya sebuah kiasan agar terlihat ideal, tapi... ideal seperti apa?
biar kita buat sendiri, tanpa ada ingatan masa lalu masing masing.

yang lucunya, aku katakan padamu kalau aku menyayangimu, yang padahal aku tahu kamu adalah perempuan yang sedang dalam pelukan.

lucu atau bodoh?

sendiri ini buatku lugu akan rasa.
seperti barista, yang baru ingat rasanya kopi, seperti anak anak belasan yang pertama kali berciuman.

harapan dalam berharap, agar kamu kuat dengan harapan ini, harapan yang aku katakan tadi lewat suara. yang aku terdiam sebelum kukatakan padamu.

harapan dalam bisik malam, harapan dalam kalbu.

Bisik Malam
2 Oktober 2016, Cirendeu.