Senin, 26 Desember 2016

Kopi Pinggir Jalan

Hari ini, setelah sekian lama, aku kembali merasakan kopi, hanya kopi, tanpa pemikiran tentang kamu didalamnya, tanpa perasaan tentang kamu di rasa pahitnya.

bebas,
walaupun pada akhirnya aku merasa kesepian, toh pada akhirnya kita akan sendirian.
aku mulai bisa melupakanmu, bukan karena kopi ini, tapi karena memang aku menginginkannya.

lucunya, minum kopi sendiri di warung pinggir jalan seperti sekarang ini, mengingatkan ku saat aku menunggu mu pulang kuliah, di kota mu, cuma bedanya, kopi ku sekarang tanpa perasaan tegang, atau tidak sabar menunggu kamu.

aku masih ingat, saat itu lepas Maghrib, saat aku dan kamu bertemu disana, dengan modal kendaraan yang aku pinjam dari seorang teman, kamu memukul kepalaku, entah karena apa, tapi aku senang, seakan akan, itu ungkapan rindu darimu.
kemudian kita makan malam berdua, yang mana, pada saat itu, aku malah lebih fokus untuk melihat wajahmu, ketimbang menyantap hidangan yang telah datang.

aku ingat, waktu itu kamu memesan nasi kuning, baso goreng, dan susu murni rasa strawberry sebagai penghilang dingin, karena waktu itu gerimis kurasa, obrolan kita canggung, tapi masih bisa saling tertawa, saling mengejek satu sama lain.

aku ingat parasmu waktu itu, gugup.
aku engga ngerti kenapa kamu gugup, walaupun kamu gugup, aku senang melihatnya.

di perjalanan pulang aku bertanya, tentang keseriusan hubungan kita, bukan seserius itu, hanya sebatas berpacaran.
tapi kamu cuma diam, tak menjawab, hanya tersenyum. dan memelukku.

aku engga ngerti, apa artinya itu, kamu bilang kamu nyaman denganku.disitu aku senang, sangat senang mendengar hal itu.

dan yang aku tidak tahu, ada nyaman bukan berarti rasa sayang.
terakhir kita berhubungan, kamu bilang kalau kamu nyaman denganku, tapi masih sayang dengannya, mantanmu itu

yang kamu bilang dia menyakitimu, yang kamu bilang dia menyia nyiakan mu, yang kamu bilang dia jahat.

tapi mengapa masih sayang?
perempuan memang susah di tebak.

Minggu, 18 Desember 2016

nah kan ee

menunggu ku terbawa kabur oleh waktu, yang kemudian terkalahkan oleh hasrat memiliki, tapi sayang seribu sayang, puan tak bisa mengerti, dia hanya mengerti kalau aku harus pergi, tanpa berpikir kalau aku pergi karena diam yang terpendam.

yaah, kenyataannya gua sendiri lagi, sajak sajak yang gua tulis untuk dia ga ada artinya, yaa cuma angin lalu kayanya, sebelum gua mutusin untuk mundur, ada satu percakapan, yang sialnya malah bikin gua mikir dua kali.

"aku mau nanya boleh? " kata gua

"nanya apa" kata dia

"kamu ada rasa ga sih?" kata gua

"rasa apa" kata dia

"sayang, atau apaa gitu ke aku?" kata gua

"rasa sayang aku masih sama i***m, rasa nyaman aku ke kamu, distance make me so confused" kata dia

"kenapa bingung?, apa yg bikin kamu bingung?"
kata gua

"love, distance, another women" kata dia

dan bla bla bla bla, sampai pada akhirnya dia bilang, " udah mundur aja, gapapa ko", dan disitu gua nyesel

gua nyesel kenapa gua ga bilang mundur dari dulu

gua nyesel kenapa gua nunggu dia.

gua nyesel karena akhirnya gua tau apa yang dia rasain, dan harapan itu cuma khayalan, yang ternyata kenyataannya kaya ee kambing.

dan akhirnya, gua bisa simpulkan bahwa

"merasakan patah hati merupakan ciri seseorang yang telah melewati kerasnya perjuangan dalam mencari"

lebay emang, tapi ya gitu kenyataannya.