Hari ini, setelah sekian lama, aku kembali merasakan kopi, hanya kopi, tanpa pemikiran tentang kamu didalamnya, tanpa perasaan tentang kamu di rasa pahitnya.
bebas,
walaupun pada akhirnya aku merasa kesepian, toh pada akhirnya kita akan sendirian.
aku mulai bisa melupakanmu, bukan karena kopi ini, tapi karena memang aku menginginkannya.
lucunya, minum kopi sendiri di warung pinggir jalan seperti sekarang ini, mengingatkan ku saat aku menunggu mu pulang kuliah, di kota mu, cuma bedanya, kopi ku sekarang tanpa perasaan tegang, atau tidak sabar menunggu kamu.
aku masih ingat, saat itu lepas Maghrib, saat aku dan kamu bertemu disana, dengan modal kendaraan yang aku pinjam dari seorang teman, kamu memukul kepalaku, entah karena apa, tapi aku senang, seakan akan, itu ungkapan rindu darimu.
kemudian kita makan malam berdua, yang mana, pada saat itu, aku malah lebih fokus untuk melihat wajahmu, ketimbang menyantap hidangan yang telah datang.
aku ingat, waktu itu kamu memesan nasi kuning, baso goreng, dan susu murni rasa strawberry sebagai penghilang dingin, karena waktu itu gerimis kurasa, obrolan kita canggung, tapi masih bisa saling tertawa, saling mengejek satu sama lain.
aku ingat parasmu waktu itu, gugup.
aku engga ngerti kenapa kamu gugup, walaupun kamu gugup, aku senang melihatnya.
di perjalanan pulang aku bertanya, tentang keseriusan hubungan kita, bukan seserius itu, hanya sebatas berpacaran.
tapi kamu cuma diam, tak menjawab, hanya tersenyum. dan memelukku.
aku engga ngerti, apa artinya itu, kamu bilang kamu nyaman denganku.disitu aku senang, sangat senang mendengar hal itu.
dan yang aku tidak tahu, ada nyaman bukan berarti rasa sayang.
terakhir kita berhubungan, kamu bilang kalau kamu nyaman denganku, tapi masih sayang dengannya, mantanmu itu
yang kamu bilang dia menyakitimu, yang kamu bilang dia menyia nyiakan mu, yang kamu bilang dia jahat.
tapi mengapa masih sayang?
perempuan memang susah di tebak.
bebas,
walaupun pada akhirnya aku merasa kesepian, toh pada akhirnya kita akan sendirian.
aku mulai bisa melupakanmu, bukan karena kopi ini, tapi karena memang aku menginginkannya.
lucunya, minum kopi sendiri di warung pinggir jalan seperti sekarang ini, mengingatkan ku saat aku menunggu mu pulang kuliah, di kota mu, cuma bedanya, kopi ku sekarang tanpa perasaan tegang, atau tidak sabar menunggu kamu.
aku masih ingat, saat itu lepas Maghrib, saat aku dan kamu bertemu disana, dengan modal kendaraan yang aku pinjam dari seorang teman, kamu memukul kepalaku, entah karena apa, tapi aku senang, seakan akan, itu ungkapan rindu darimu.
kemudian kita makan malam berdua, yang mana, pada saat itu, aku malah lebih fokus untuk melihat wajahmu, ketimbang menyantap hidangan yang telah datang.
aku ingat, waktu itu kamu memesan nasi kuning, baso goreng, dan susu murni rasa strawberry sebagai penghilang dingin, karena waktu itu gerimis kurasa, obrolan kita canggung, tapi masih bisa saling tertawa, saling mengejek satu sama lain.
aku ingat parasmu waktu itu, gugup.
aku engga ngerti kenapa kamu gugup, walaupun kamu gugup, aku senang melihatnya.
di perjalanan pulang aku bertanya, tentang keseriusan hubungan kita, bukan seserius itu, hanya sebatas berpacaran.
tapi kamu cuma diam, tak menjawab, hanya tersenyum. dan memelukku.
aku engga ngerti, apa artinya itu, kamu bilang kamu nyaman denganku.disitu aku senang, sangat senang mendengar hal itu.
dan yang aku tidak tahu, ada nyaman bukan berarti rasa sayang.
terakhir kita berhubungan, kamu bilang kalau kamu nyaman denganku, tapi masih sayang dengannya, mantanmu itu
yang kamu bilang dia menyakitimu, yang kamu bilang dia menyia nyiakan mu, yang kamu bilang dia jahat.
tapi mengapa masih sayang?
perempuan memang susah di tebak.